TENTANG PEMBUATAN KUESIONER

TENTANG PEMBUATAN KUESIONER

Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian dan memperoleh informasi dengan reliabilitas dan validitas setinggi mungkin. Mengingat terbatasnya masalah yang dapat ditanyakan dalam kuisioner, maka senantiasa perlu diingat agar pertanyaan-pertanyaan memang langsung berkaitan dengan hipotesis dan tujuan penelitian.

Jika variabel penelitian sudah jelas, maka pertanyaan pun menjadi jelas. Ini tentunya berkaitan dengan kemampuan teknis pembuatan kuisioner, walaupun titik tolaknya adalah variabel penelitian yang jelas dan relevan. Sebaliknya, jika variabel penelitian masih kabur dalam pikiran peneliti, pertanyaan-pertanyaan juga akan kabur dan mungkin sekali dimasukan banyak pertanyaan yang tidak relevan. Kekaburan dan kekacauan tersebut akan menimbulkan masalah yang berlarut-larut pada analisa data dan penulisan hasil penelitian.

Beberapa cara pemakaian kuisioner

Mungkin agak sedikit formal uraian berikut ini, tapi tidak ada salahnya kita mereview ulang pemahaman kita terkait kuesioner sebelum kita menyusun dan menggunakannya pada responden sesungguhnya.

  1. Kuisioner digunakan dalam wawancara tatap muka dengan responden
  2. Kuisioner diisi sendiri oleh kelompok. Misal, seluruh murid dalam satu kelas dijadikan responden dan mengisi kuisioner secara serentak
  3. Wawancara melalui telpon. Cara ini sering dilakukan lazim Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya, tetapi tidak lazim di negara-negara berkembang. Prosedur  ini lebih murah daripada wawancara tatap muka dan adakalanya orang tidak bersedia didatangi tapi bersedia diwawancarai melalui telpon
  4. Kuisioner diposkan, dilampirkan amplop dan dibubuhi perangko, untuk dikembalikan oleh responden setelah diisi. Cara ini dapat dilakukan untuk kuisioner yang pendek dan mudah dijawab, tetapi mungkin cukup besar proporsi yang tidak dikembalikan oleh responden.

Jenis pertanyaan pada kuesioner

Yang perlu diperhatikan oleh peneliti adalah kehomogenan skala ukur data yang menyusun isi dari kuesioner. Tujuannya untuk memudahkan pengolahan data hasil survey. Terutama pada bagian variable penelitian yang diteliti, meskipun ada beberapa rumpun pengujian statistik yang meungkinkan untuk menguji data dengan beberapa skala ukur data. Ini menjadi penting kehati-hatian peneliti dalam menyusun kuesioner dengan alat uji statistik yang akan digunakan nantinya.

1. Pertanyaan tertutup. Kemungkinan jawaban sudah ditentukan terlebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan untuk memberikan jawaban lain.

Misal : “Apakah ibu pernah mendengar tentang keluarga berencana?”

Opsi jawaban : (1.) Pernah             (2.) Tidak pernah

2. Pertanyaan terbuka. Kemungkinan jawaban tidak ditentukan terlebih dahulu dan responden bebas memberikan jawaban.

Misal : “Menurut pendapat ibu, apakah masalah yang paling penting bagi wanita di kota?”

3. Kombinasi tertutup dan terbuka. Jawabanya sudah ditentukan tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka.

Misal : “Apakah ibu pernah mendengar tentang cara-cara menjarangkan kehamilan atau membatasi kehamilan?”

Opsi jawaban : (1.) Pernah     (2.) Tidak pernah      (Jika pernah) Cara-cara apa yang pernah ibu dengar?

4. Pertanyaan semi terbuka. Pada pertanyaan semi terbuka, jawabanya sudah tersusun tetapi masih ada kemungkinan jawaban tambahan.

Misal : “Jenis kontrasepsi apa yang dipakai :”

Opsi jawaban : (1.) IUD    (2.) Pil     (3.) Kondom     (4.) Suntikan Sterilisasi   (5) Lainnya . . . (sebutkan)

Petunjuk membuat pertanyaan

Berikut merupakan panduan umum yang mungkin bisa dijadikan salah satu pertimbangan peneliti dalam memulai merumuskan dan membuat pertanyaan-pertanyaan dari variable penelitiannya. Terlihat sederhana akan tetapi perlu diperhatikan dengan seksama terutama dalam menuangkan diksi pada kaliamat pertanyaan dalam instrumen penelitiannya.

1. Gunakan kata-kata yang sederhana dan dimengerti oleh semua responden. Hindarkan istilah yang hebat tetapi kurang atau tidak dimengerti responden.

Misal : “Bagaimana status perkawainan Bapak?” lebih baik “Apakah bapak beristri?”

2. Usahakan supaya pertanyaan jelas dan khusus.

Miisal : “Berapa orang berdiam di sini?”

Apakah yang dimaksud “di sini” adalah bangunan, somah atau yang lain? Arti kata “di sini” harus dijelaskan dan konsisten.

3. Hindarkan pertanyaan yang mempunyai lebih dari satu pengertian.

Misal : “Apakah saudara mau mencari pekerjaan di kota?” Lebih baik “Apakah saudara mencari pekerjaan? Kalau jawan “Ya”, kemudian ditanyakan “Di mana saudara ingin bekerja?”

4. Hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti.

Misal : “Pada waktu senggang, apakah saudara mendengarkan radio atau melakukan yang lain?” Lebih baik “Apakah yang saudara lakukan pada waktu senggang?”

5. Pertanyaan harus berlaku untuk semua respoden.

Misal : “Apakah pekerjaan saudara sekarang?” Ternyata dia menganggur. Seharusnya ditanyakan terlebih dahulu “Apakah saudara bekerja?” Kalau jawabannya “Ya” lalu ditanyakan “Pekerjaan saudara?”

Susunan pertanyaan

Pertanyaan dikelompokan sesuai dengan tujuan penelitian, dimulai dengan identitas yang berisi : (1) nama responden (2) tempat tinggal (3) nama pewawancara (4) tanggal wawancara. Lalu disusul dengan pertanyaan tentang ciri-ciri demografi : jenis kelamin, usia, pendidikan, status, dll.

Dalam pola penyusunan kuisioner penelitian diserahkan kepada peniliti bagaimana pengelompokan pertanyaan itu dilakukan, sejauh mana peneliti ingin mengeksplorasi suatu informasi spesifik dari responden. Yang perlu diperhatikan ialah urutan yang cukup runut dan juga dimana ditempatkan pertanyaan yang sensitif. Pertanyaan sensitif tidak ditempatkan dibagian muka karena dapat segera mempengaruhi suasana wawancara. Biasanya pertanyaan semacam ini ditempatkan dibelakang, tetapi bukan pada penutup supaya wawancara tidak diakhiri dengan perasaan kurang baik.

Bentuk fisik kuisioner

Kuisioner sebaiknya rapi, jelas dan mudah digunakan. Menyusun kuisioner yang baik memerlukan lebih banyak waktu tetapi secara keseluruhan akan menghemat waktu. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

  1. Ukuran kertas dan jenis kertas
  2. Diisi bolak balik atau tidak
  3. Pembagian ruangan tidak bersempit-sempit. Sisi kiri dan kanan cukup longgar
  4. Nomor urut pertanyaan. Nomor urut dari mula sampai akhir atau tiap kelompok mempunyai nomor sendiri. Berdasarkan pengalaman, kami menyarankan sistem nomor urut dari mula sampai akhir
  5. Penggunaan huruf besar, huruf kecil dan huruf miring
  6. Tanda panah atau kotak pertanyaan
  7. Kotak kolom (Pembuatan kotak kolom akan menghemat waktu dan tenaga pada tahap berikutnya)
  8. Untuk menghindarkan salah ambil, kuisioner dibuat berlainan warna untuk respoden pria atau wanita. Umpamanya, satu halaman muka dibuat berwarna biru untuk pria dan merah jambu untuk kuisioner wanita.

Misal :

303. Apakah ibu mempunyai anak kandung laki-laki yang tinggal bersama ibu?

            Ya        1                      TIDAK 2           (Langsung ke 305)

304. (Jika “Ya”) Berapa orangkah yang tinggal bersama ibu?

Penggunaan hurup besar dan miring pada contoh di atas sangat membantu, begitu juga panah di bawah “Ya”.

Pretest | Pilot Survey

Pretest dilakukan untuk menyempurnakan kuisioner. Melalui pretest akan diketahui berbagai hal :

  1. Apakah pertanyaan tertentu perlu dihilangkan. Pertanyaan tertentu mungkin tidak relevan untuk masyarakat yang diteliti, karena itu perlu dihilangkan.
  2. Apakah pertanyaan tertentu perlu ditambahkan. Adakalanya terlupa memasukan pertanyaan yang perlu dimasukan.
  3. Apakah tiap pertanyaan dapat dimengerti dengan baik oleh responden dan apakah pewawancara dapat menyampaikan pertanyaan tersebut dengan mudah.
  4. Apakah urutan pertanyaan perlu diubah.
  5. Apakah pertanyaan yang sensitif dapat diperlunak dengan mengubah bahasa.
  6. Berapa lama wawancara memakan waktu.

Berapakah jumlah responden untuk pre-test? Untuk penentuan jumlah tidak ada patokan pasti dan tergantung pada homogenitas responden. Untuk pretest biasanya sebanyak 30 s.d 50 orang kuisioner sudah mencukupi dan dipilih responden yang keadaannya kurang lebih sama dengan responden yang sesungguhnya diteliti. Pretest dilaksanakan di luar daerah penelitian.

Pedoman pengisian kuisioner

Pedoman pengisian kuisioner merupakan pegangan bagi pewawancara. Dalam pedoman pengisian kuisioner, tiap pertanyaan yang diajukan diberi keterangan yang jelas dan terinci. Juga dicantumkan jawaban yang diharapkan, terutama pada pertanyaan tertutup dan pertanyaan semi terbuka.

Perlu diperhatikan peneliti adalah jawaban yang diharapkan dari sebuah instrumen penelitian dari responden adalah jawaban yang alami yang keluar langsung dari hasil pengetahuan, pengalaman atau pun perasaan responden dari hasil pengindraan atas intrumen penelitian yang dihadapkan pada responden, Jadi meskipun pedoman pengisian kuesioner dibuat, bukan berarti terjadi pengarahaan berlebihan dari pewawancara terhadap responden sehingga berakibat pada bias pada data yang dihasilkan oleh instrumen penelitian. Sangat lah penting bagi peneliti untuk menegaskan hal ini pada setiap pewawancara yang dipekerjakannya.

Penggunaan bahasa

Kuisioner di Indonesia hampir seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini perlu ditinjau karena kebanyakan responden, terutama di pedesaan, tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan pewawancara tidak dapat diharapkan menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan memang terjawab, tetapi sampai dimanakah reliabilitas dan validitas dari respon tersebut? Distorsi-distorsi dalam pengertian mudah terjadi, begitu pula dapat timbul perasaan yang kurang enak bagi responden karena pemilihan kata yang kurang tepat. Wawancara juga dapat tersendat-sendat karena pewawancara kurang lancar menerjemahkan di hadapan responden.

Apabila karena alasan waktu dan kuisioner tidak mungkin diterjemahkan, maka coaching bahasa setidaknya dapat dilakukan dan pewawancara mempunyai satu eksemplar kuisioner dalam bahasa daerah dan pedoman wawancara yang sudah dibuat dapat dijadikan acuan juga bagi pewawancara dalam memandu selama proses wawancara berlangsung.  

Daftar Pustaka

  1. Metode Statistika, Prof. Dr. Sudjana, Tarsito, Bandung, 2005.
  2. Metodoloi Penelitian Survai, Masri Singarimbun & Sofian Effendi, LP3ES, 1995.
  3. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Rineka Cipta, 2006.

Narahubung

MobileStatistik.Com merupakan wadah dari lulusan dan ahli statistika yang mengkhususkan aktivitasnya pada asistensi para peneliti khusunya penelitian akademik. Kami membantu dalam proses pengambilan data di lapangan (sebar kuesioner maupun survey online), pengolahan data dan interpretasinya baik itu untuk jenjang pendidikan Diploma, Strata 1 (S1), Master (S2) maupun Doktoral (S3). Khusus untuk pengambilan data di lapangan Kami turut juga membantu rekan-rekan pada bagian Research and Developement (R&D) yang ada di perusahaan maupun institusi tertentu. Untuk infomasi lebih lanjut terkait dengan aktifitas Kami bisa menghubungi di berbagai kanal berikut :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *