Menghadapi Fakta Brutal, Good to Great, Jim Collins

Menghadapi Fakta Brutal, Good to Great, Jim Collins

Dua artikel lalu, yang kita muat pada kolom SerbaSerbi yang kaitannya dengan ulasan singkat dari buku Good to Great, kita sudah bahas pada 2 bab awal dari buku tersebut yaitu Kepemimpinan Level 5 dan Siapa Dulu… Baru Apa. Kita coba ulas singkat pembahasan dua bab yang lalu, kaitannya dengan Kepemimpinan Level 5, dimana menjadi landasan bagi para CEO dalam membangun perusahaan yang bukan hanya baik secara performa finansial akan tetapi perusahaan yang lestari (keberadaan perusahaan bukan hanya ada karena suatu pimpinan melainkan karena nilai-nilai yang ada dalam perusahaan itu sendiri). Sedangkan Siapa Dulu …. Baru Apa, merupakan langkah awal yang dilakukan oleh seorang pemimpin level 5, dimana mereka menemukan orang yang tepat terlebih dahulu dalam perusahaan dapat mengakselerasi kerja dan capaian-capaian perusahaan secara kontinu.

Pada kesempatan kali ini kita akan coba share tema selanjutnya, dimana ini merupakan langkah kedua yang dilakukan oleh pemimpin level 5 dalam membangun perusahaan bagus ke hebat (lestari), yaitu Menghadapi Fakta Keras/Brutal [Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan]. Dalam bab ini dibahas sikap optimistis menyikapi kondisi terpuruk dari suatu perusahaan, dengan tanpa mengabaikan fakta-fakta riil lapangan yang sedang terjadi. Dalam hal kebanyakan, optimisme dibangun hanya dengan narasi motivasi yang hanya menggugah semangat akan tetapi mengabaikan penanggulangan fakta-fakta keras yang sedang terjadi di luar perusahaan. Dan penulis dalam hal ini Jim Collins pada bukunya menyebutnya dengan istilah “Paradoks Stockdale”.

Paradoks Stockdale, Good to Great, Jim Collins

Selanjutnya, pada artikel ini kita akan mengutip ikhtisar atau rangkumannya saja, lebih lengkap mengenai cerita dan data yang menjadi landasan intisari pada pembahasan bab Menghadapi Fakta Keras/Brutal [Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan], pembaca dapat membaca langsung pada buku Good to Great, Jim Collins. Adapun poin-poin kunci pada bagian ketiga dari buku Good to Great yang membahas tentang Menghadapi Fakta Keras/Brutal [Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan] diantaranya,

  1. Semua perusahaan bagus ke hebat memulai proses menemukan jalan keagungan atau kejayaan dengan menghadapi fakta-fakta brutal dari realitas terkini mereka.
  2. Saat Anda memulai dengan upaya jujur dan tekun untuk menemukan realitas situasi Anda, keputusan-keputusan yang benar kerap menjadi jelas dengan sendirinya.
  3. Tugas utama membawa satu perusahaan dari bagus ke hebat adalah menciptakan satu kultur dimana orang akan memiliki peluang besar untuk didengarkan, sehingga pada akhirnya kebenaran pun akan terdengar.
  4. Menciptakan satu iklim dimana kebenaran itu terdengar melibatkan empat praktik dasar : (1). Memimpin dengan pertanyaan, bukan jawaban (2). Terlibat dalam dialog dan debat, bukan paksaan (3). Melakukan otopsi tanpa saling menyalahkan dan (4). Membangun mekanisme bendera merah yang mengubah informasi menjadi informasi yang tak bisa diabaikan..
  5. Perusahaan bagus ke hebat menghadapi kesukaran yang sama besar dengan perusahaan pembanding, tapi merespon kesukaran itu secara berbeda. Mereka langsung menghadapi realitas situasi. Akibatnya mereka keluar dari kesukaran itu dalam kondisi lebih kuat.
  6. Satu psikologi kunci untuk memimpin dari bagus ke hebat adalah Paradoks Stockdale : Mempertahankan keyakinan mutlak bahwa Anda bisa dan akan menang pada akhirnya, terlepas dari rintangan yang ada, dan pada saat bersamaan menghadapi fakta-fakta paling brutal dari realitas terkini Anda, apa pun rintangan itu.
  7. Karisma bisa jadi menjadi beban ketimbang aset karena kekuatan dari kepribadian kepemimpinan Anda bisa menyurutkan orang untuk membawa fakta-fakta brutal kepada Anda.
  8. Kepemimpinan tidak hanya mulai dengan visi. Kepemimpinan mulai dengan membuat orang menghadapi fakta-fakta keras dan bertindak mengatasi dampak-dampak yang terjadi.
  9. Mencurahkan waktu dan energi untuk berusaha “memotivasi” orang sama dengan membuang tenaga. Pertanyaan pentingnya bukanlah, “Bagaimana kita memotivasi orang kita?”. Jika Anda memiliki orang yang tepat, mereka akan memotivasi diri dengan sendirinya. Salah satu cara utama untuk menyurutkan motivasi orang adalah dengan mengabaikan fakta-fakta keras realitas.

Yang perlu kita sadari bersama bahwa untuk membangun suatu perusahaan yang bagus (bahkan perusahaan yang lestari) tidaklah bersifat instant (jangka waktu cepat). Dalam bab pertama buku Good to Great pada perusahaan-perusahaan yang diteliti setidaknya perlu belasan bahkan puluhan tahun (20 s.d 25 tahun) dari perusahaan untuk menujukkan bahwa perusahaan tersebut hebat dan lestari (didalamnya memiliki pemimimpin dengan kapasitas Level 5). Karena berbasis pada riset dan data, selama periode yang lama tersebut perusahaan mencatatkan kemajuan yang signifikan dengan tren naik salah satunya pada harga saham dan pendapatan.

Lebih lengkap mengenai cerita hasil riset yang didapati pada perusahaan-perusahaan US, Amerika tersebut sehingga digolongkan pada perusahaan yang hebat dan lestari, dapat dibaca pada buku Good to Great, Jim Collins, yang menurut penulis dapat dijadikan refrensi bacaan yang menarik dan memotivasi meskipun oleh para leader-leader yang sedang membangun sekalipun. SEMOGA BERMANFAAT. wallahu a’lam.

Sumber :Good to Great, Jim Collins.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *